RAPBN tanpa Semangat Pembangunan

gambar diambil dari harian surya

“The most important point is, in a time of crisis, there is no way out but for the government to be bold and aggressive,” Mark Zandi – chief economist and co-founder of Moody’s Economy.com

oleh Heriyadi

Dari RAPBN kemarin, pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% proyeksi inflasi sebesar 5%, suku bunga SBI 3 bulan sebesar 6,5%, dan nilai tukar rupiah sebesar Rp 10.000 per dollar AS.

Dengan pertumbuhan sebesar 5% dan inflasi sebesar 5% artinya ekonomi Indonesia hanya jalan ditempat, tidak ada pertumbuhan apa-apa dan kenaikan gaji pegawai negeri yang rata-rata sebesar 5% pun yang dikatakan untuk memperbaiki kinerja birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik adalah janji semu, sebab kenaikan itu berupa kenaikan semu yang besarannya sama dengan inflasi.

SBY dalam pidatonya juga tetap membanggakan keadaan ekonomi yang relatif lebih baik dari negara lain karena kebijakan dan kecepatan pemerintah dalam mengambil keputusan, sambil tetap menyatakan bahwa Indonesia tidak dapat memisahkan dirinya dari pengaruh menurunnya ekonomi global. Dalam kenyataannya Indonesia bisa berada dalam ekonomi yang relatif lebih baik karena kurangnya ketergantungan Indonesia atas pendapatan ekspor dan lebih mengandalkan sektor konsumsi dalam negeri, jadi sebenarnya pemerintah menjadikan kegagalannya dalam membangun ekspor yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi, sebagai prestasi karena tidak turunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ilustrasi sederhananya begini mana yang anda pilih penghasilan yang sebelumnya 10.000 dan turun ke 9.000  atau penghasilan yang naik dari dari 2500 ke 2750?

Sementara untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalannya membangun pertumbuhan ekonomi ke depan, maka pemerintah segera menyiapkan jurus bahwa ekonomi global belum membaik, jadi kita juga jangan berharap terlalu banyak bahwa ekonomi Indonesia akan membaik dan tumbuh dengan cepat, sementara ekspor sesungguhnya tidak menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi kita. Seperti terlihat dari tulisan Bung Robby Muhammad kemarin Seberapa Penting Ekonomi Indonesia untuk Dunia terlihat bahwa hubungan ekonomi Indonesia dengan dunia itu tidak signifikan jadi kita tidak bisa menyalahkan perlambatan ekonomi yang dihadapi dunia sebagai alasan lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Angka-angka yang disajikan di RAPBN ini sangat-sangat konservatif, bisa dikatakan tanpa melakukan apapun (perubahan atau kerja keras dari pemerintah) angka ini akan tercapai, tidak ada semangat pembangunan di RAPBN ini, tidak ada semangat mereformasi birokrasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang selama ini banyak terhambat karena birokrasi. Semua hanya kata-kata manis yang tidak tercermin dalam angka-angka yang diajukan pada RAPBN tersebut. Angka-angka dalam RAPBN memperlihatkan biaya rutin, subsidi dan pembayaran hutang akan menghabiskan anggaran, tidak ada semangat pembangunan dan perubahan untuk perbaikan ekonomi.

Satu yang mungkin berita menggembirakan untuk rakyat kecil adalah meningkatnya angka subsidi bahan bakar minyak dan beras untuk rakyat bersubsidi, tapi buat saya tetap subsidi ini salah sasaran dan multiplier effectnya untuk perkembangan ekonomi keseluruhan sangat kecil jika dibandingkan jika dana ini digunakan untuk membangun infrastruktur yang mempunyai multiplier effect sangat besar.

Pemerintah juga menurunkan defisit anggarannya dari 2,5% menjadi 1,6% tahun 2010. Jika penurunan ini dengan semangat untuk mengurangi hutang pemerintah tentu ini adalah tindakan yang dipuji, tapi kalo penurunan ini lebih disebabkan karena pemerintah melihatnya gagalnya mereka memanfaatkan defisit ini untuk memberikan stimulus untuk pembangunan ekonomi seperti yang terjadi pada tahun ini tentu ini sangat disayangkan. Saat ekonomi menunjukan tanda-tanda perbaikan seharusnya pemerintah harus berani dan bertindak cepat memberikan dorongan kepada perekonomian dengan stimulus-stimulus yang bisa dibiayai dari defisit ekonomi tadi.

Seperti kalimat dari Mark Zandi yang saya kutip diatas, dimasa krisis maka pemerintah harus bertindak berani dan agresif, sementara RAPBN yang diajukan ini sangat konservatif dan tidak ada tanda-tanda semangat keberanian dan agresifitas pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk keluar dari krisis.

~ oleh Heriyadi Yanwar pada Agustus 4, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: