Prabowonomics menurut pandangan saya

Menarik membahas konsep Prabowonomics yang ditawarkan oleh Prabowo Subianto. Prabowonomics adalah konsep ekonomi kerakyatan yang ditawarkan oleh Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.
Sayangnya konsep ini masih kurang penjabaran yang jelas dan detail. Belum ada cetak biru konsep ekonomi ini selain pernyataan bahwa konsep ini berbasis kerakyatan yang berdasar pada pertanian. Cetak biru yang jelas akan membuka perdebatan apakah konsep ekonomi ini bisa berjalan, apakah kekurangan dan kelebihan dari konsep ekonomi ini jadi bukan hanya slogan-slogan.

Satu-satunya keterangan yang menjelaskan tentang konsep Prabowonomics adalah dari Manifesto Perjuangan Gerindra di Bidang Ekonomi [1], serta hasil wawancara Prabowo dengan Warta Bisnis[2].

Disini saya akan memberi pandangan saya tentang konsep ini, baik yang pro maupun kontra, yang saya urutkan berdasarkan bidang ekonomi seperti tertulis pada Manifesto Perjuangan Gerindra.

1. Pertanian
Konsep Ekonomi Kerakyatan yang berbasis pada Ekonomi Pertanian yang ditawarkan Prabowo berdasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih tergantung pada Pertanian. Tapi seperti di tulis Jeffrey Sachs di “Tropical Underdevelopment” [3] bahwa sebagian besar negara-negara di daerah Tropis adalah negara-negara tidak berkembang. Hawa tropis yang sangat menarik untuk liburan (satu lagi bidang ekonomi yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah Pariwisata, yang sayangnya tidak dibahas dalam Prabowonomics) ternyata tidak begitu bagus untuk produksi pangan dan sangat kondusif untuk penyebaran penyakit. Jadi kita menemukan satu lagi jebakan kemiskinan di daerah tropis yaitu pertanian yang rendah produktivitasnya, hujan yang tidak dapat diprediksi dan penyakit kronis. Pada tulisan itu juga diberikan dua solusi untuk mengatasi hal itu, yaitu pemanfaatan riset teknologi yang ditujukan khusus untuk daerah tropis (riset saat ini lebih banyak ditujukan untuk negara-negara maju yang tidak cocok untuk daerah tropis) dan meningkatkan pendapatan melalui sektor diluar agraris dengan ekpor produk manufaktur (hal yang tampaknya sudah dilakukan Indonesia, walau masih banyak yang dapat diperbaiki seperti tidak hanya menjual bahan baku). Jadi yang diperlukan dari Prabowonomics adalah bagaimana pemerintah memberikan insentif agar perusahaan, lembaga riset, universitas diberikan insentif untuk mengembangkan teknologi pertanian yang cocok untuk negara tropis sehingga meningkatkan produktivitas dan bukan hanya dengan cara pembukaan lahan baru.

2. Kelautan
Satu sektor lagi yang dicanangkan akan dikembangkan pada Prabowonomics, saya setuju sektor ini adalah salah satu sektor yang sangat terpinggirkan selama ini. Adanya kementerian kelautan belum terlihat efeknya secara nyata,  ketika nelayan memilih tidak dapat melaut karena tidak sanggup membeli solar tentunya masih ada yang salah dengan sektor ini. Belum tentu karena solarnya yang jadi mahal yang salah, tapi kenapa hasil melaut itu tidak cukup untuk membeli solar. Masyarakat Indonesia sendiri masih kurang memakan hasil laut ini, hasilnya justru lebih banyak di ekspor, ini mungkin yang harus diubah.

Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai ekploitasi sektor kelautan ini tidak terencana dan pada akhirnya merusak laut kita secara total. Pemberian insentif yang tepat akan membangun keseimbangan yang baik sebagai contoh penerapan yang dilakukan komunitas nelayan Lobster di Port Lincoln Australia[4].

3. Perlindungan Dunia Usaha
Disini yang diperlukan adalah pemerintahan yang kuat, peraturan yang tegas dan hukum yang adil. Hal yang menjadi masalah utama adalah diperlukan pemerintahan yang menerapkan aturan secara adil dan efisien (kepastian hukum dapat diperoleh dalam waktu singkat tidak digantung bertahun-tahun). Diperlukan birokrasi yang tegas dan independen dalam menjalankan tugasnya (tidak ada lagi penundaan pembukaan suspend saham atas permintaan menteri, itu adalah tugas Bapepam dan hak Bapepam untuk membuka atau tidak suspend saham tersebut).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah aturan “level playing field” antara pemilik modal besar dengan pemilik modal kecil. Contoh nyata di negara asalnya para pedagang retail besar (discount store) hanya diperbolehkan di daerah pinggiran kota, sehingga toko-toko retail tradisional tetap dapat tumbuh hidup di tengah kota. Sementara disini kita melihat toko-toko tersebut ditengah-tengah kota sehingga mematikan pedagang retail kecil dan pasar-pasar tradisional.

4. Pajak
Pajak adalah pedang bermata dua, pajak yang tepat akan sangat berguna bagi pembangunan jika penerapannya tepat, tapi juga bisa menurunkan minat investasi jika pajak yang diterapkan terlalu tinggi.
Jadi yang diperlukan adalah pajak yang rendah, mudah dihitung dan gampang dikumpulkan dibandingkan dengan peraturan pajak yang rumit, berlapis-lapis, susah dihitung dan dikumpulkan yang akhirnya menjadi sumber korupsi.

5. Hutang Luar Negeri
Pembiayaan pembangunan membutuhkan modal, disaat krisis Global saat ini maka konsumsi pemerintah melalui APBN akan menggerakan perekonomian. Kebijakan defisit disaat seperti ini adalah kebijakan yang tepat,  buat saya tidak ada yang salah dengan hutang luar negeri untuk membiayai defisit pembangunan selama penggunaannya tepat dan saratnya ringan. Disini pandangan Prabowonomics menegaskan menolak hutang baru dan mengutamakan pembiayaan dalam negeri. Suatu hal yang bagus secara politik tapi tidak ekonomis menurut saya.
Pengajuan penghapusan hutang luar negeri yang dikorup adalah kebijakan yang sangat bagus yang sampai saat ini masih membuat saya bingung kenapa hal ini tidak dilakukan oleh pemerintahan yang sekarang.
Untuk pandangan renegoisasi kontrak karya saya sangat setuju, jika kita bisa memberikan pandangan dan keuntungan buat bersama dalam jangka panjang tentu renegoisasi ini akan berjalan dengan baik. Tidak perlu memakai cara Eva Morales atau Hugo Chavez, negosiasi yang baik akan membawa kebaikan untuk kedua belah pihak.

6. Penanaman Modal Asing
Tidak ada negara yang dapat sukses tanpa perdagangan dengan negara lain saat ini. Penanaman Modal Asing ini juga harus membuka pasar barang Indonesia ke negara asing.
Salah satu contohnya adalah dengan banyaknya perusahaan rekaman musik asing di Indonesia saat ini, seharusnya selain membawa musik dari luar negeri untuk dipasarkan di Indonesia, maka mereka juga diharuskan untuk memasarkan pemusik Indonesia di luar negeri.

7. Kredit Mikro dan Deregulasi Peraturan
Muhammad Yunus dan Grameen Bank [5] sudah membuktikan bagaimana efektifnya kredit mikro dalam membangun perekonomian rakyat kecil. Indonesia dengan koperasinya bisa menerapkan ini dengan lebih efektif dan pengawasan yang lebih baik.
Hal lain yang masih perlu diperhatikan adalah deregulasi peraturan dalam melakukan usaha, pendirian sebuah PT di Indonesia masih memerlukan 6 izin dan waktu sekitar 55-72 hari dibandingkan hanya 2 izin dan waktu 2 hari di Canada (paling efisien dan cepat di dunia). Belum lagi biaya mendirikan sebuah PT sekitar Rp. 9.625.000 yang berarti sekitar 54 persen dari pendapatan per kapita orang Indonesia yang sebesar Rp. 17.900.000 (data tahun 2007) dibandingkan di Selandia Baru dimana biaya untuk mendirikan usaha hanya sekitar 0,4 persen dari pendapatan per kapita.

8. Globalisasi
Prabowonomics disini dalam kalimatnya cendrung menolak globalisasi dan perdagangan bebas, walau setelah dicermati secara mendalam yang ditolak adalah ketidakadilan perekonomian yang diterapkan negara-negara maju dalam globalisasi dan perdagangan bebas saat ini.
Buat saya yang salah bukannya globalisasi dan liberalisasi perdagangan, perdagangan akan mendukung perkembangan kekayaan[6], yang salah adalah ketidakmampuan negara-negara berkembang bernegosiasi atas aturan diterapkan negara maju yang menguntungkan negara maju tapi merugikan negara berkembang. Indonesia harus bisa memimpin negara-negara berkembang lain untuk meminta keadilan yang lebih nyata dalam aturan-aturan di WTO.
Kebijakan proteksi bagi komoditas perdagangan dalam negeri adalah kebijakan yang salah walau tujuannya mulia. Sejarah sudah membuktikan proteksi perdagangan misalnya untuk tujuan mengembangkan industri dalam negeri agar dapat bersaing dengan perusahaan asing tidak pernah berjalan, proteksi ini hanya akan membuat perusahaan dalam negeri tergantung pada pasar dalam negeri tapi tidak dapat bersaing di pasar internasional dan akan membuat perusahaan jadi tidak efisien[7], yang pada akhirnya akan menjadi beban negara atau masyarakat.
Yang diperlukan bukan proteksi tapi kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif untuk pengembangan human capital, teknologi, infrastuktur, modal dan pembukaan pasar agar perusahaan dalam negeri dapat bersaing dengan perusahaan asing dimana pun.
Proteksi atau subsidi lebih tepat diterapkan pada hal-hal yang sangat dasar yaitu sandang, pangan dan papan serta hal yang menyangkut hidup orang banyak atau keamanan nasional bukan secara umum dilakukan pada industri komoditas dalam negeri.
Satu hal lagi dari Probowonomics yang bagus secara politik tapi tidak secara ekonomi.

9 Badan Usaha Milik Negara
Saya setuju pandangan bahwa negara harus mempunyai BUMN yang menambah pemasukan bisnis negara serta memberi pelayanan pada masyarakat. BUMN yang efektif dan efisien akan memberi kebanggan pada bangsa.
Penolakan privatisasi BUMN masih tidak jelas, apakah BUMN Indonesia yang terlalu banyak saat ini dan cendrung merugi tidak perlu diprivatisasi dan langsung ditutup saja.
Yang perlu ditolak adalah privatisasi BUMN yang menguntungkan dan strategis untuk negara, sementara BUMN sudah jelas tidak efektif dan efisien dan tidak mempunyai nilai strategis sebaiknya diprivatisasi saja.

Satu hal yang kurang saya peroleh dari Prabowonomics ini adalah bagaimana pembagian distribusi kekayaan, pada awal manifesto hanya disebutkan terjadinya kesenjangan antara yang miskin dan kaya pembangunan hanya dinikmati segelintir orang. Disebutkan koperasi adalah pemecahannya, tapi bagaimana tindakannya dalam bentuk nyata? Apakah setiap perusahaan dianjurkan menjadi koperasi? Bagaimana perusahaan yang sudah ada sekarang, tindakan apa yang dapat memastikan pemerataan pendapatan?
Sebenarnya kalo berdasarkan GINI Index distribusi pendapatan Indonesia malah masih lebih baik dibandingkan Amerika Serikat, tapi harus diakui bahwa jurang ini makin lama makin melebar kecuali pada tahun 2000 (yang mungkin disebabkan oleh krisis), jurang ini semakin melebar lagi di tahun 2002[8] dan semakin buruk pada 2005[9] (data terakhir Gini Index yang saya peroleh).

Jadi mudah-mudahan Prabowo dan Partai Gerindra bisa memberikan cetak biru dan langkah-langkah nyata tentang Prabowonomics yang bisa memancing tukar pikiran yang konstruktif untuk pengembangan ekonomi Indonesia.

Komentar dari rekan-rekan ditunggu sebab saya hanya orang awam (ekonomi bukan bidang keilmuan saya) dan menulis berdasarkan sedikit pengetahuan yang saya miliki, tapi dengan diskusi saya harap akan mengembangkan pengetahuan kita bersama.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Prabowo Subianto Blogging Competition yang diadakan Facebook Page Prabowo Subianto (http://tinyurl.com/prabowo) dimana Facebook Page Prabowo Subianto adalah tempat dimana seluruh warga negara Indonesia dapat menyatakan dukungan untuk Prabowo Subianto dan berdiskusi dengan Prabowo Subianto serta calon legislatif dari Partai Gerindra

Referensi

[1] Manifesto Gerindra bidang Ekonomi http://masfami.blogspot.com/2008/10/manifestoperjuangangerindrabidang_25.html
[2] Kata Prabowo: Saya Tetap Panglima
http://wawancaraku.blogspot.com/2006/10/kata-prabowo-saya-tetap-panglima.html
[3] Tropical Underdevelopement, Jeffrey Sachs, National Bureau of Economic Research, February 2001
[4] A Tale of Two Fisheries, John Tierney, New York Times Magazine, 27 Agustus 2000
[5] Muhammad Yunus, http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yunus
[6] Does Trade Cause Growth?, Jeffrey A. Frankel dan David Romer, American Economic Review, vol 89, no 3 Juni 1999
[7] Growth in Africa: It can be done, Jeffrey Sachs, The Economist, 26 Juni 1996
[8] Indonesia Gini Index Historical Data, http://www.nationmaster.com/time.php?stat=eco_gin_ind-economy-gini-index&country=id-indonesia#source
[9] Indonesia Gini Index, http://www.indexmundi.com/Indonesia/distribution_of_family_income_gini_index.html

~ oleh Heriyadi Yanwar pada Desember 7, 2008.

6 Tanggapan to “Prabowonomics menurut pandangan saya”

  1. politiconomic

  2. Menyoroti kontrak karya, terutama di bidang migas yang saat ini masih menggunakan sistem cost recovery, sebetulnya akan lebih menarik jika sistem bagi cost recovery dihilangkan dan diganti dengan pembagian lebih besar untuk KKS. Sebentar, mungkin akan terdengar merugikan negara dan menguntungkan perusahaan minyak. Namun jika ditelaah lebih lanjut justru ini akan memberikan kejelasan atas pembagian hasil pemanfaatan sumber daya dibandingkan dengan cost recovery dimana saat ini banyak ditengarai terjadi penggelembungan dana cost recovery oleh para kontraktor yang akhirnya menurunkan potensi pendapatan negara. Contoh yang baik adalah Norwegia yang menerapkan kalau tidak salah pembagian 75:25, dimana seluruh biaya operasi merupakan tanggung jawab kontraktor, negara menerima 75% hasil pengangkatan migas tanpa perlu dipusingkan pos mana yang akan di cost recovery, tidak perlu repot saling tuding dan saling tuduh ditingkat elit meributkan cost recovery, karena memang tidak ada yang perlu di recover. Pembagian dalam proporsi 70%-80% untuk negara saya rasa masih optimal untuk Indonesia mengingat medan yang tidak terlalu berat untuk eksplorasi dan eksploitasi, tidak seberat North Sea atau Gulf of Mexico. Ini akan menarik investor dan tentunya akan meningkatkan produksi migas, yang pada akhirnya menambah pemasukan untuk negara.

  3. rencana yang hebat, tetapi apa mungkin berhasil di tengah situasi yang krisis ini baik segi mental maupun segi ekonomi

  4. terus, bagaimana dengan menanggulangi bahaya kelaparan yang semakin hebat

  5. Assalamualaikum WW… mohon maaf sebelumnya kami hanya berkomentar bahwa semua teori dan aplikasi yang telah disampaikan semuanya baik… namun pada kesempatan yang baik ini perkenankan kami sedikit dapat URUN REMBUG yakni, :
    1. Bagaimana kita semua bangsa dari para penguasa sampai dengan
    seluruh rakyat bersama-sama menciptakan kedamaian dan ketentraman
    kerukunan di negara Indonesia yang kita cintai ini dengan cara tidak
    saling merasa dirinya benar dan egois dengan cara-cara
    provokasi/menghasut antara satu dengan lainnya… seharusnya saling
    menghargai dengan sopan santun yang menjadi adat kita dan ingatlah
    kita adalah satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
    2. Bagaimana kita semua rakyat Indonesia ini berusaha keras menciptakan
    dan mendukung sepenuhnya upaya mengutamakan terlebih dahulu
    KEMANDIRIAN khususnya dibidang EKONOMI dengan pendekatan
    menciptakan PRODUKTIVITAS baik diri sisi agraris maupun industri
    dengan segala kemudahannya, karena SDM yang berlimpah.
    BUKAN seperti yang kita cermati sekarang, maaf adalah kecenderungan
    ke arah menjadi PEDAGANG saja yang tidak membutuhkan SDM
    banyak.

    Wassalamualaikum WW.

  6. Sebagai penjelasan : yang dimaksudkan….
    Pendekatan PRODUKTIVITAS adalah DAPAT menciptakan lapangan pekerjaaan, sedangkan apabila hanya memprioritaskan pendekatan PEDAGANG, justru kebalikannya yi. menciptakan banyak pengangguran…karena tidak banyak membutuhkan SDM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: